Klikbola11

CepuSeo – Pembahasan mengenai Jokowi Kurus Tapi Otaknya Gemuk sedang menjadi berita viral dan hangat saat ini mari kita simak.

Nama Tifatul Sembiring mendadak tenar. Pro dan kontra menemani hari-harinya kini usai doa yang ia bacakan dalam sidang tahunan DPR/MPR tanggal 16 Agustus 2017.

Tahun lalu politikus dari partai Gerinda, Syafii, juga berdoa dengan tidak etis dalam sidang tahunan, dan juga menuai kontroversi.

Dua partai oposisi pemerintah yang mempermainkan doa , Luar biasaDan lebih luar biasanya lagi ternyata doa Tifatul ini adalah improvisasi karena sebenarnya doa itu tidak ada dalam teks aslinya.

Doa yang benar-benar tidak pantas dan tidak pada tempatnya.

Menurut saya ada dua hal menarik yang hendak saya bagikan dalam tulisan ini. pertama: mengenai pembelaan Tifatul atas doanya yang menuai kritik itu dan yang kedua mengenai fisik pak Jokowi yang kurus.

Pertama: “Nggak (mengkritik). Doanya yang lebih baik dan bagus. Supaya kuat, supaya sehat menghadapi beban yang berat.

Itu dibaca semua, jangan dipotong begitu,” ujar Tifatul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Berita Tercepat , Rabu (16/8/2017).

Tifatul mengatakan dirinya tidak ada tujuan apapun. Hanya berdoa agar Presiden Indonesia menjadi lebih baik.

“Supaya lebih bagus Presiden kita. Supaya dikabulkan Allah doanya, he-he,” kata Tifatul.

Ia menekankan sekali lagi bahwa doa yang dipanjatkannya itu bukan sebatas Presiden agar lebih gemuk. Tapi juga supaya mencintai rakyatnya.

“Supaya sehat, supaya beriman, supaya bertakwa, supaya mencintai rakyat, supaya menghormati ulama, supaya istiqomah. Panjang doanya,” tutup dia.”

Penjelasan Tifatul di atas menurut saya sangat absurd. Sudahlah, bilang saja jujur kalau pak Jokowi itu kurus kering, tidak berwibawa, jelek, tidak gagah.

Maksudnya apa coba bilang “agar Presiden Indonesia menjadi lebih baik”.

Lebih baik dari sisi apa? Fisik? Sejak kapan fisik menjadi ukuran akan kebaikan, kegagahan, kewibawaan seorang presiden?

Sejak kapan presiden gemuk berarti presiden yang baik, gagah perkasa? Yang penting itu integritas, mental, dan moral. Dan tiga hal itu ada di pak Jokowi.

Dari pada berbadan gempal, gagah, tapi baru digrudug orang seiprit saja di rumah yang tidak ditinggalinya sudah merasa terancam, galau, curcul di medsos.

Seharusnya kalau doa yang tulus dari hati yang jernih dan waras, langsung saja doakan agar Tuhan memberikan kesehatan kepada pak Jokowi agar dapat memimpin negri ini dengan baik dan dua periode.

Tidak usah mengolok-olok fisik dan pribadi begitu. Pak Jokowi itu presiden bukan pembantumu, bekatul miring!..Sori, agak gregetan ini.

Tidak mungkin “Tifatul mengatakan dirinya tidak ada tujuan apapun” selain mendoakan agar presiden agar menjadi lebih baik.

Maksudnya agar presiden Indonesia menjadi lebih gemuk, gempal, gagah perkasa.

Buat apa badan gemuk tapi otak kurus, macam kau itu, Tifatul, otak kurus. Dendam kesumat saja yang ada di otakmu itu!

Ia menekankan sekali lagi bahwa doa yang dipanjatkannya itu bukan sebatas Presiden agar lebih gemuk. Tapi juga supaya mencintai rakyatnya.

“Supaya sehat, supaya beriman, supaya bertakwa, supaya mencintai rakyat, supaya menghormati ulama, supaya istiqomah. Panjang doanya,” tutup dia.”

Supaya sehat? Tidak. Supaya gemuk iya, karena memang pak Jokowi badannya kurus. Tifatul ini malu kalau presidennya berbadan kurus.

Supaya beriman?

Ini lebih absurd lagi.

Memangnya pak Jokowi kurang beriman?

Iman itu yang menilai Tuhan, bukan manusia.

Dan penglihatan kita pun sangat jelas bahwa pak Jokowi beragama. Itu tandanya beliau beriman kepada Tuhan yang Maha Esa.

Mencintai rakyatnya? Sangat jelas pula kalau pak Jokowi ini sangat mencintai rakyatnya.

Pembangunan merata, BBM satu harga di Indonesia, Papua, listirk juga sudah mulai dinikmati oleh saudara kita di Papua, juga semen harganya sudah sangat turun, dan lain-lain.

Lalu apa indikasi bahwa Jokowi tidak mencintai rakyatnya?

Apakah gara-gara subsidi listrik dicabut dan banyak yang mengeluhkan mahalnya harga listrik?

Saya bukan sombong karena saya juga masih dalam kategori berekonomi menengah ke bawah, dan biaya listrik memang sedikit menambah beban.

Tapi saya sangat bahagia ketika tahu bahwa beban saya ini ternyata menerangi rumah-rumah suadara saya di Papua, yang ketika dipimpin mantan jendral yang gagah perkasa itu, tidak juga dialiri listrik.

Setahu saya, dalam hitung-hitungan ekonomi, resiko harus diambil agar, perusahaan misalnya, mengalami kemajuan. Tidak stagnan.

Tidak jalan di tempat. Dan pak Jokowi mengambil resiko itu, mencabut subsidi listrik orang-orang yang mampu. Tentu saja agar bangsa ini segera menjadi bangsa yang mandiri dan berkeadilan.

Dan rakyatnya tidak manja karena subsidi. Lagi pula sampai kapan mau disubsidi? Sampai negara tetangga sudah pindah ke planet Mars?

Jokowi tidak menghormati Ulama? Yang benar saja? Ulama yang mana? Ulama yang lari ke Arab itu? Emang dia ulama, ya?

Jadi fix ya, kalau doa Tifatul Sembiring ini hanya sebuah nyinyiran yang mengolok presiden. Mengolok fisik presiden yang kurus. Dan mempermalukan Jokowi di depan umum.

Walau sebenarnya pak Jokowi tidak pernah merasa malu pada fisiknya yang kurus dan bersahaja itu. Harusnya Tifatul ini salut pada dan bangga pada Jokowi karena kurus kering begitu kok bisa jadi presiden dan terbukti mampu memimpin dengan baik pula.

Jokowi itu rakyat jelata, bukan mantan jendral yang gagah perkasa

Kedua: Pak Jokowi memang berbadan kurus. Tapi otaknya gemuk, sehat, gagah, dan perkasa. Beliau hanya sorang rakyat jelata yang kebetulan dipercaya menjadi pemimpin.

Kekurusan fisiknya itu bukan karena ia menjadi presiden, dengan beban pekerjaan yang sangat berat. Tetapi sejak menjadi wali kota Solo pun beliau memang sudah kurus. Dan perawakan beliau ya begitu itu, sangat “ndeso” dan bersahaja.

Beliau kurus tapi tidak berarti cacingan, penyakitan, dan tidak mampu memimpin negeri ini. Justru beliau, menurut info rajin puasa.

Dan bukan penampilan fisik yang menjadi fokus beliau. Tapi kejujuran dan integritas dalam memikul amanat rakyatlah yang penting. Ia tak lagi peduli pada dirinya sendiri.

Walau begitu bukan berarti beliau tidak sadar kalau beliau itu Presiden, lambang negara. Sejauh ini beliau telah menunjukan suatu sikap yang wajar dan pas sebagai Presiden.

Ingat soal jas yang beliau pakai ketika bertemu sultan Brunai, yang kacingnya bawahnya tidak terkancing dan menjadi sorotan kaum bumi datar?

Dan ternyata cara memakai jas pak Jokowi sudah benar dengan tidak mengkancingkan kancing paling bawah.

Juga soal sholat pakai kaus kaki, pak Jokowi juga sudah benar dan tidak ada yang salah. Tapi oleh kaum bumi datar kaos kaki itu menjadi fitnah.

Tapi ketika yang lain, tokoh idola mereka yang sholat pakai kaus kaki mereka diam sejuta bahasa.

Sejak dilantik jadi presiden tiga tahun lalu, otaknya yang gemuk tapi lincah itu langsung tancap gas membenahi Indonesia.

Beliau tahu bahwa salah satu elemen penting perekonomian adalah infrastruktur.

Oleh sebab itu infrastruktur dikebut. Agar ke depan perekonomian lebih mudah ditata dan dirancang.

Bagaimana mungkin ngomongin harga barang murah kalau distribusinya saja sulit minta ampun karena kondisi jalan yang rusak parah.

Klub sekaya Manchaster United saja punya hutang bertumpuk. Lalu haramkan sebuah negara berhutang? Sama sekali tidak.

Asal hutang dipakai untuk hal yang produksif. Bukan berhutang untuk mensubsidi dan bikin candi.

Kurang lebih tiga tahun ini kita melihat dan merasakan pembangunan yang begitu giatnya. Hampir disegala bidang dan dimana-mana.

Pak Jokowi ingin agar Indonesia juga punya infrastruktur yang megah dan menunjang perekonomian.

Berapa kali pak Jokowi bolak-balik ke Kalimantan, Sumatera, dan Papua?

Tak terhitung jumlahnya.

Beliau ingin memastikan bahwa proyek berjalan dengan baik. Tidak ada yang mangkrak karena dananya dikorupsi.

“wajah” Indonesia diperbatasan perlahan dicantikan.

PLBN dibangun dengan megahnya. 10 Tahun dipimpin sang jendral berbadan tegap, gagah, gemuk, PLBN mana yang dibangun dengan megah?

Mungkin saya kurang up date.

Papua kini tak lagi menjadi anak tiri, pembangunan masif juga terjadi di Papua terutama akses listrik dan jalan.

Juga BBM dan Semen, kini harganya jauh lebih murah. Ini agar perekonomian Papua perlahan naik dan membaik.

Terbaru kita baru saja mengekspor bawang merah ke Thailand. Kelak semoga beras dan komoditi lainnya.

Kita harus paham bahwa negri ini sudha cukup lama terjajah oleh prilaku dan budaya korupsi, budaya kontraproduktif karena hanya mementingkan golongan sendiri.

Rakyat hanya menjadi alasan klasik untuk berkuasa.

Pak Jokowi, dengan otaknya yang gemuk itu, sedang mempersiapkan masa depan yang bagus, kokoh, dan cerah untuk Indonesia.

Walau ia tahu bahwa resiko yang ia ambil akan menyakiti hati rakyatnya.

Tapi ini penting agar kelak masa depan rakyatnya cerah, secerah mentari pagi.

Dan sepuluh dua puluh tahun lagi, rakyat bangsa ini akan berterima kasih pada Jokowi atas apa yang kini beliau lakukan, menancapkan fondasi infrastruktur, ekonomi, moral dan kejujuran yang sangat kokoh di Negeri ini.

Jokowi, orang yang kurus tapi berotak gemuk dan cerdas.

Semoga pak Jokowi, Presiden Indonesia, sehat selalu.

Baca juga Kontes Seo Bandar Poker :

1 COMMENT

LEAVE A REPLY