Klikbola11

CepuSeo – Pembahasan mengenai Ketika Presiden Jokowi Tidak Malu Ungkap Kelupaannya Saat Upacara Penurunan Bendera sedang menjadi berita viral dan hangat saat ini mari kita simak.

Ada yang mengatakan bahwa menjadi manusia lebih penting daripada menjadi seorang yang dipuja dan dituhankan.

Menjadi manusia akan membuat diri kita jadi lebih rileks dan bebas dalam melakukan aktivitas.

Tidak usah merasa harus selalu berlaku benr dan tidak malu juga mengungkapkan kesalahan dan kekeliruan.

Bayangkan jika kita dipuja bak dewa dan tuhan??

Semua kegiatan kita akan disorot dan ketika melakukan kesalahan akan membuat diri kita dicaci mati-matian.

Bahkan akan sangat direndahkan karena ternyata tidaklah beda dengan manusia pada umumnya.

Seorang pemimpin pun harusnya bisa berlaku wajarnya seperti manusia dan tidak perlu bangga dan senang dipuja bak dewa.

Itulah yang menurut saya sedang dilakukan oleh Presiden Jokowi dengan mengungkapkan peristiwa dimana dirinya lupa apa yang harus dilakukan saat upacara penurunn bendera.

Berikut pernyataannya Berita Tercepat melalui akun Facebook resminya..

Sebenarnya kejadian ini tak seorang pun yang tahu di luar saya dan Ruth. Ya, hanya saya dan Ruth Cheline Eglesya Purba, pembawa baki Bendera Merah Putih saat upacara Penurunan Bendera 17 Agustus, Jumat sore lalu.

Ketika sang pembawa baki dengan bendera terlipat di atasnya melangkah berderap lewat undakan tangga dan mengangsurkannya ke hadapan saya, saya benar-benar lupa: yang harus diangkat bakinya atau hanya kain bendera di atasnya.

Baki kuningnya sudah saya pegang. Untunglah, Ruth begitu dekat dan saya berbisik. “Ruth, ini yang diambil bendera atau bakinya?”

Ruth balas berbisik,“Bapak, hanya benderanya saja.”

Ya, sudah. Untung bisikan saya tidak ada yang dengar Pak Wakil Presiden Jusuf Kalla yang berdiri dekat saya pun tidak mendengarnya.

Mengapa saya sampai lupa? Karena tidak ikut gladi upacara penurunan bendera. Tapi, Alhamdulillah, upacara berjalan dengan baik.

Penjelasan Presiden Jokowi ini tentunya tidaklah perlu dilakukan kalau ingin menjadi orang yang mengusung kepribadian sebagai sosok yang tidak ada salah.

Tetapi mengungkapkan hal ini tentu saja punya pesan dan manfaat yang sangat besar.

Pesan Jokowi ini seperti ingin mengatakan bahwa dirinya bukanlah orang yang tidak bisa lupa dan keliru.

Namun, meski lupa dan keliru, tidak ada salahnya bertanya supaya tidak terjadi hal-hal yang lebih fatal.

Presiden Jokowi pun melakukan hal tersebut dan akhirnya melakukan prosesi dengan baik.

Tidak malu bertanya dan meminta penjelasan adalah sebuah hal penting daripada sok tahu dan merasa benar sendiri.

Presiden Jokowi memang tidak perlu malu dan tidak akan pernah malu kalau dirinya lupa dan keliru, karena dia memang tidak pernah menempatkan diri dan tidak pernah juga menginginkan dirinya diperlakukan seperti seorang manusia sempurna tanpa salah.

Walau tetap saja sebenarnya ada orang-orang yang memuja Presiden Jokowi bak dewa.

Para pendukung ini biasanya orang-orang yang tingkat sensitivitasnya sangat tinggi sehingga usaha menjelek-jelekkan Presiden Jokowi selalu dihantam tanpa ampun.

Padahal, Presiden Jokowi bukanlah manusia tanpa salah dan lupa. Hal ini juga terjadi saat Presiden Jokowi salah menandatangani Perpres tanpa membacanya terlebih dahulu.

Saya yakin kalaulah hal ini dibuat jadi alasan Presiden Jokowi membenarkan diri untuk setiap kesalahannya, tidaklah menjadi suatu masalah.

Karena Presiden Jokowi akan selalu punya peluang dan potensi salah, lupa, dan keliru. Dan dia selalu merasa tidak perlu khawair kalau akhirnya dinyinyirin sebagai Presiden yang bisa salah dan keliru.

Coba bayangkan saja bagaimana jika Presiden Jokowi tetap kukuh menjadi Presiden yang tidak ingin kesalahan dan kekeliruannya diekspos seperti ini.

Mungkin saja si Ruth yang membawakan baki langsung dipanggil dan diminta untuk bungkam.

Karena Presiden Jokowi ingin tampil hebat tanpa salah. Tetapi yang dia lakukan malah memunculkan nama Ruth sebagai sosok yang menolongnya.

Hal yang berbeda terjadi kepada yang dimuliakan dan disanjung oleh kaum 212, Rizieq Shihab.

Ingin selalu tampil benar dan kudus, pada akhirnya malah sekarang jadi orang yang tidak bisa mempertanggungjawabkan chat mesumnya.

Bukannya datang menjelaskan, malah kabur dan tidak balik-balik ke Indonesia.

Bagaimana tidak kabur, kekudisannya dipertontonkan sedemikian rupa. Mau mengelak tidak bisa karena chat mesum itu asli adanya.

Seandainya saja tampil sebagai manusia biasa, mungkin kalau khilaf chat mesum sama Firza, mungkin kita bisa maklumi.

Tetapi ini malah ingin dipuja sebagai orang paling benar dan ulama besar Indonesia. Hasilnya malah jadi pelarian.

Karena itulah, sangat penting tetap jadi manusia normal yang bisa salah dan keliru serta tidak malu mengungkapkan hal tersebut.

Selalu ada kelegaan dan selalu ada ketenangan jiwa. Sebuah pesan yang baik untuk akhir minggu yang cerah ini..

Baca juga Kontes Seo Bandar Poker :

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY