Klikbola11

CepuSeo – Pembahasan mengenai Kualitas Seorang Negarawan Semakin Kentara, Jokowi Fokus Kerja, Mereka Fokus Pemilu Presiden 2019 sedang menjadi berita viral dan hangat saat ini mari kita simak.

“Politisi memikirkan tentang pemilu berikutnya sedangkan negarawan berpikir tentang generasi berikutnya” – (James Freeman Clarke)

Pemilu Presiden masih 2 tahun lagi, namun akhir-akhir ini beberapa kalangan sudah gaduh dan riuh memikirkannya.

Siapa calon Presiden, siapa wakilnya ? Berkoalisi dengan Partai A atau B ? Bagaimana elektabilitas dan lain sebagainya.

Sementara Jokowi sendiri terlihat kalem dan tidak memersoalkan hal itu. Ia melakukan rutinistas seperti biasa dengan giatnya untuk rakyat.

Di sini kemudian kita disuguhi tontonan yang terlihat kontras. Yang satu fokus kerja, sementara di sisi lain, sebagian kalangan justru fokus dan sibuk tentang “kue kekuasaan” 2019 nanti.

Dengan kenyataan seperti ini, kemudian para pemerhati masalah kenegaraan membagi tokoh politik, pejabat dan pemangku jabatan baik sipil maupun militer dalam dua kategori.

Yakni politikus atau negarawan. Di manakah posisi mereka ?

Lantas kemudian, apa beda dari keduanya yang menyolok ? Ada ulasan yang menarik dari Yudi Latif, pengamat politik dari Reform Institute. Menurut penilaiannya, Indonesia banyak memiliki politisi tapi sangat sedikit negarawan.

“Negawaran memberikan jiwa raganya untuk negara, sedangkan politisi mencari sesuatu untuk jiwa raganya dari negara,” kata Yudi Latif pada sebuah diskusi di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Rabu.

Menurut Yudi, negarawan memberikan jiwa raganya untuk negara, sehingga dapat menjadi pahlawan.

Selain itu, negarawan memberikan apa yang dapat diberikan kepada negara, sedangkan politisi mencari apa yang bisa diperoleh dari negara.

“Karena itu, banyak politisi yang terjebak pada kasus hukum dan praktik korupsi,” katanya.

Yudi menegaskan, negarawan tidak kaya. Dia mencontohkan, para pendiri bangsa yang merelakan jiwa raganya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia, hidupnya biasa saja.

Para pendiri bangsa, kata dia, berdebat habis-habisan dalam forum-forum diskusi untuk menegakkan ideologi, tapi berteman akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan kategorisasi ini, kita yang masih berpikir jernih bisa meletakkan Presiden Jokowi di mana ?

Baca juga : RAJAPOKER88 SITUS AGEN JUDI POKER BANDAR DOMINO QQ ONLINE TERPERCAYA

Apakah Beliau seorang negarawan atau politikus ?

Begitu pula dengan pihak-pihak yang berseberangan dengannya, yang sekarang sedang sibuk mencari calon serta berkoalisi dengan partai-partai untuk menjegal Jokowi di 2019 nanti ?

Apakah mereka negarawan atau politikus ?

Uniknya, Presiden Jokowi tidak terlalu hirau dengan hiruk-pikuk ini. Beliau tetap serius bekerja, serius “blusukan” ke seantero Nusantara untuk melihat kondisi warganya.

Beliau bukan sosok ABS “Asal Bapak Senang” yang sudah puas menerima laporan dari bawahannya.

Proyek besar yang tengah dikerjakan Ia “sidak” agar tak mangkrak seperti era-era sebelumnya.

Tanah Papua yang selama ini masih banyak tertinggal dari wilayah-wilayah lainnya sangat diperhatikan di era Jokowi.

Ketidakadilan sudah berlangsung puluhan tahun di sana, tanpa seorang pun peduli.

Padahal, Papua adalah Provinsi di Indonesia yang luas dan besar.

Tentu memandang seorang tokoh sebagai negarawan atau politikus tidaklah mudah dan liniear.

Tidak ada manusia yang benar-benar ideal, di sana-sini banyak kekurangan dan kealpaan. Namun demikian, pastinya ada karakteristik atau ciri-ciri yang mendekati.

Jadi, apa yang menjadi ciri khas seorang negarawan ?

Bagaimana kita bisa membedakannya secara terang benderang dengan politisi ?

Menurut Ioanes Rakhmat, seorang pemimpin negara yang memenuhi 12 ciri berikut ini layak disebut negarawan. Ke-12 ciri ini sebagai berikut :

  1. Berhasil menegakkan the Rule of Law dalam negara yang dipimpinnya, terhadap semua golongan.
  2. Tahu masalah-masalah mendasar dalam negaranya, dan tahu bagaimana mengatasinya di jalur the Rule of Law.
  3. Punya visi dan komitmen kuat kemana negara yang dipimpinnya mau dibawa, dalam koridor the Rule of Law.
  4. Berhasil mempertahankan bangsa dan negaranya untuk jangka sangat panjang dalam kesatuan dalam keragaman.
  5. Berjuang keras dan real untuk menempatkan bangsa dan negaranya di tempat terhormat dan bermartabat dalam dunia internasional.
  6. Mempunyai wawasan-wawasan orisinal tentang penataan negara dan bangsa yang diterima dan diakui dunia internasional.
  7. Dekat dengan rakyat yang dipimpinnya dan tahu isi hati dan pikiran mereka.
  8. Taktis, strategis dan berani, dalam koridor the Rule of Law, dalam menghadapi lawan-lawan politiknya di dalam negerinya sendiri ataupun di luar negeri.
  9. Kata-kata, pikiran-pikiran dan wawasan-wawasannya menyatu dengan perbuatan-perbuatannya– seorang yang telah mengenal dirinya sendiri.
  10. Lebih mencintai rakyat dan negaranya ketimbang mencintai isteri/suami dan anak-anaknya sendiri atau partai politiknya sendiri atau bahkan negara-negara lain yang kuat yang umumnya ingin mengendalikan dan mendikte negara-negara lain yang lebih kecil dan lebih lemah.
  11. Berhasil menjadi teladan dan panutan semua orang yang dipimpinnya karena komitmennya pada the Rule of Law.
  12. Ketika turun dari jabatannya, the Rule of Law semakin kokoh tertanam dalam kehidupan bangsa dan negaranya (dalam Iaones Rakhmat).

Mungkin tidak semua negarawan memiliki ke-12 karakter atau ciri-ciri demikian. Seperti yang saya tegaskan di awal, bahwa tidak ada manusia yang serba ideal.

Namun setidaknya, seorang negarawan memiliki sifat atau ciri-ciri yang dikemukakan ini lebih banyak ketimbang seorang politisi apalagi rakyat awam.

Nah, dari ke-12 ciri-ciri ini, di manakah posisi Jokowi berada ? Tentu pembaca pun bisa menilainya sendiri.

Sebaliknya, pembaca pun bisa menilai apakah lawan-lawan politik Jokowi yang hari-hari ini sudah berhiruk-pikuk membahas Pemilu Presiden 2019 nanti apakah bisa dikategorikan negarawan atau politikus.

Sayangnya, seperti banyak pengamat mengatakan, di Indonesia jauh lebih banyak politikusnya, sementara sosok negarawan masih bisa dihitung jari alias langka.

Baca juga : DANAQQ.COM SITUS BANDARQ DOMINO QQ BANDARQ ONLINE DOMINO 99 DOMINOQQ DOMINO99 ONLINE INDONESIA

Ada baiknya kita mendengar nasihat, Ahmad Syafii Maarif atau akrab disapa Buya Syafii, tokoh senior Muhammadiyah.

Pendiri Maariff Institute ini menyarankan politisi Indonesia naik kelas menjadi negarawan yang baik.

“Jangan cuma hanya jadi politisi, tetapi harus bisa naik kelas menjadi negarawan agar tidak hanya mementingkan suatu golongan,” kata Buya Ahmad Syafii Maarif dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa malam (24/02/15).

Menurut dia, jika politisi berpandangan seperti negarawan, maka keadaan Indonesia akan lebih baik dan tidak ada saling menjatuhkan.

Pernyataan yang cukup menohok justru datang dari James Freeman Clarke.

James Freeman Clarke, seorang penulis berkebangsaan Amerika, mengatakan bahwa perbedaan signifikan antara politisi dan negarawan adalah politisi memikirkan tentang pemilu berikutnya sedangkan negarawan berpikir tentang generasi berikutnya.

Dengan demikian, seorang pemimpin negarawan akan dapat dilihat dari pandangan-pandangannya yang mempunyai komitmen tinggi terhadap kepentingan bangsa jauh ke depan.

Sebaliknya, seorang politikus hanya sibuk memikirkan diri dan kepentingan partai atau kelompoknya ! -,CepuSeo

#JokowiUntukIndonesia

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY