Klikbola11

CepuSeo – Pembahasan mengenai Kuda Putih Pak Jokowi, Mematikan Langkah Para Lawan! sedang menjadi berita viral dan hangat saat ini mari kita simak.

Saya bingung mengikuti langkah senyap buah catur politik Jokowi, apalagi Anda yang belum pernah bermain catur. Permainannya begitu senyap, tidak grusa-grusu, begitu senyap sampai lawan politiknya tidak sadar, terjebak skak-ster, terkapar, termasuk saya.

‘Skak-mat’ pertama adalah ketika Presiden Joko Widodo memenangkan pertandingan di Pilpres 2014, melawan head to head dengan Prabowo. Pada saat itu Prabowo memegang buah catur putih, Jokowi dengan buah catur hitam.

Permainan catur kedua, Presiden Jokowi dengan buah catur putih, diberi kesempatan untuk menaiki ‘kuda putih’ oleh Prabowo, di Hambalang, di kediaman Prabowo. Pada saat itu, sebagian besar masyarakat menduga, bahwa permainan catur politik sudah dimulai kembali, setelah Prabowo kalah di Pilpres 2014 yang lalu, pada permainan catur pertama dulu.

Kini Jokowi memegang buah catur putih (gantian dong ah!), langkah pertama pemegang buah catur putih, jalan………., Jokowi lebih dulu mendatangi tempat Prabowo di Hambalang, dan Prabowo sebagai pemegang buah catur hitam, mempersilakan buah catur putih jalan terlebih dahulu, sesuai dengan permainan catur internasional.

Kuda Putih Pak Jokowi, Mematikan Langkah Para Lawan!
Kuda Putih Pak Jokowi, Mematikan Langkah Para Lawan!

Baru pernah ada di Indonesia, bahwa seorang Presiden pemenang Pilpres mendatangi lawannya. Bahkan di pemilihan kepala daerah pun belum ada. Yang kalah biasanya mendatangi untuk mengucapkan selamat kepada pemenangnya.

Kemudian, kedatangan Presiden Jokowi di Hambalang disambut luar biasa, karena Jokowi diberi kesempatan menaiki ‘kuda (catur) putih’, berkuda bareng Prabowo, dan memakai topi pemberian Prabowo.

Presiden Joko Widodo mengaku mendatangi kediaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, untuk memenuhi janji. Janji itu pernah ia sampaikan saat bertemu di kediaman keluarga Prabowo di Kertanegara, Kebayoran, Jakarta Selatan, pada 17 Oktober 2014 lalu. Saat itu, Jokowi masih berstatus Presiden terpilih setelah menang dari Prabowo di pemilu presiden 2014.

Prabowo sebagai ketua umum Partai Gerindra, sangat berhasil untuk mematikan benteng (castle) pertahanan lawan politiknya, karena pada tahun 2012, PDIP yang menjagokan Jokowi sebagai Cagub bersama Gerindra yang menjagokan Ahok sebagai Cawagub, berhasil mematahkan pertahanan lawannya, Foke-Nara.

Dengan keberhasilan Prabowo di tahun 2017 untuk memenangkan Anis-Sandi, yang berhasil menjatuhkan Ahok-Djarot sebagai benteng (castle) dari Jokowi, maka dapat dihitung sudah dua kali Prabowo mengalahkan inkumben Gubernur DKI Jakarta. Hal ini membuat Prabowo menjadi pede, percaya diri untuk maju kembali sebagai Capres di tahun 2019 nanti, seperti apa yang dikatakan oleh Prabowo.

“Kalau kalian ingin saya jadi presiden 2019, Anies-Sandi Gubernur DKI, betul?” tanya Prabowo yang disambut sorak-sorai pendukung. Dia pun mengajak agar para pendukung Anies-Sandiaga memastikan kemenangan pasangan itu. “Menangkan (Anies-Sandiaga). Kalian harus kerja keras, jangan teriak-teriak di sini,” tutur Prabowo.

Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBD) DKI Jakarta adalah yang tertinggi di seluruh kota dalam Pemerintahan Daerah di Indonesia. Sehingga, kekalahan Ahok-Djarot terhadap Anis-Sandi mengakibatkan Jokowi mungkin kesulitan mengakses informasi di Pemprov DKI Jakarta. Jokowi menarik mundur buah catur putih, gajah (jalan diagonal putih-hitam), yaitu Heru Budi Hartono yang ditarik ke Istana.

Heru dikenal sangat dekat dengan Jokowi. Saat Jokowi masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Heru menjabat sebagai Kepala Biro Kepala Daerah dan Hubungan Luar Negeri. Setelah Jokowi melenggang ke Istana menjadi Presiden ketujuh RI, karir Heru menanjak. Ia menjabat sebagai walikota Jakarta Utara hingga tahun 2015. Jabatan terakhir, Heru diketahui sebagai Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD). Kini, Heru menjadi Kepala Sekretariat Presiden.

Dengan ditariknya Heru ke Istana, maka Jokowi sedang mengincar benteng (castle) buah catur hitam yang dipasang Prabowo, yaitu Anis-Sandi di DKI Jakarta. Sedangkan untuk menyerang lawan politiknya, langkah kedua buah kuda putih catur Jokowi sudah mulai menyerang.

Jokowi membiarkan Ahok masuk penjara, karena hukum yang berbicara dalam kasus Ahok. Maka Jokowi membiarkan benteng (castle) putih dimakan lawan politiknya. Tapi, sekali lagi tapi……, lawan kehilangan dua gajah (maaf bukan gajah tapi unta) sekaligus, yaitu: pertama, buah catur gajah hitam ‘mati’ dengan ‘kuda putih’ Jokowi dan lari terbirit-birit ke negeri Arab, kedua, buah catur gajah hitam ‘mati’ lagi oleh buah catur ‘kuda putih’ Jokowi dengan pembubaran HTI, melalui Perppu no 2 tahun 2017 ini.

Dalam permainan catur, saya lebih suka kehilangan 2 gajah sekaligus dari pada kehilangan 1 benteng (castle) seperti Ahok, strategi ini berbeda dengan Jokowi.

Fakta bahwa Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab masih mempertimbangkan rencananya ‎pulang ke Indonesia untuk menghadiri milad atau hari jadi organisasi mereka, yaitu pada tanggal 17 Agustus ini.

Demikian hal itu diungkapkan Juru Bicara FPI, Slamet Ma’arif. Menurut Slamet, alasan utama Habib Rizieq masih mempertimbangkan untuk pulang ke tanah air, tak lain dan tak bukan, adalah karena faktor keamanan.

Loh kok bisa ya, ‘milad’ bisa sama dengan hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yang jatuh pada tanggal 17 Agustus juga. Maka sudah seharusnyalah Habib Rizieq menghormati Pancasila, bukan sebaliknya, sehingga tidak dituntut dengan penghinaan Pancasila oleh putri Proklamator Indonesia, Sukmawati Sukarno Putri.

Dengan bergulirnya kasus korupsi e-KTP yang diungkap oleh KPK, kemudian dibalas oleh DPR dengan hak angket ke KPK. Kasus korupsi e-KTP yang melibatkan uang korupsi triliunan rupiah ini, melibatkan sebagian besar anggota di DPR RI dan eks-pejabat di era Presiden SBY. Terlihat jelas bahwa Presiden Jokowi sedang menjalankan bidak-bidaknya (pion), langkah demi langkah.

Sah! Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 tahun 2017 yang mengatur mengenai keberadaan ormas sudah diteken Presiden Jokowi sejak Senin (10/7/2017), dan sudah masuk DPR.

Kuda Putih Pak Jokowi, Mematikan Langkah Para Lawan!
Kuda Putih Pak Jokowi, Mematikan Langkah Para Lawan!

Wakil Sekretaris Komisi Hukum dan Perundang-undangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Erfandi menjelaskan, mekanisme pengadilan dalam proses pembubaran sebuah ormas tidak ditiadakan dengan terbitnya perppu tersebut. Ormas yang dibubarkan pemerintah seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), lanjut dia, bisa mengajukan gugatan ke pengadilan.

“Proses peradilan itu bukan tidak ada. Jadi logikanya begini, kalau HTI dibubarkan dan mereka merasa tidak bersalah, mereka bisa membuktikannya di pengadilan,” tuturnya.

Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Salestinus, juga menyatakan bahwa keempat kader fraksi di DPR, Gerindra, Demokrat, PKS dan PAN yang menolak Perppu no 2 tahun 2017, tentang pembubaran Ormas, akan membunuh karir mereka, serta menurunkan perolehan suara di pemilihan legislatf yang akan dilakukan di tahun 2019.

“Mereka akan terkena dampak dengan potensi penurunan suara di Pilleg dan Pilpres 2019, karena sikap mereka yang tidak sejalan dengan kehendak mayoritas masyarakat Indonesia yang mendukung penuh Perppu no 2 tahun 2017 itu”.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa pemerintah tetap pada keinginan awal yaitu presidential threshold tetap 20-25 persen. Alasannya, presidential threshold 20-25 persen telah digunakan pada Pemilihan Presiden dua kali berturut-berturut, yaitu tahun 2009 dan tahun 2014.

Kala itu, lanjut Jokowi, Pilpres berjalan baik dan tak ada masalah. Ini yang menjadi alasan pemerintah tak mau presidential threshold dikurangi apalagi dihilangkan.

“Karena dari pengalaman dua kali Pemilu yang lalu kan sudah 20 persen berjalan baik,” kata Jokowi usai menghadiri Rakernas Apkasi di JCC, Senayan, Jakarta.

Catat tanggal 19 Juli 2017 : Jokowi menyatakan bahwa sudah dua kali berturut-turut Pilpres tahun 2009 dan 2014, tidak ada masalah. Dengan perkataan lain (dpl), Jokowi sudah memberitahu bahwa buah catur ‘kuda putih’ akan melangkah untuk melakukan skak-ster. Hati-hati loh!

Loh kok langkah buah catur ‘kuda putih’ Jokowi membuat Skak-ster bukan skak-mat…………. ya iya lah,…………. Pilpres tahun 2019, kan belum berjalan! he he.

Tanggal 21 Juli 2017, dengan terjadinya aksi ‘walk out’ oleh keempat partai yaitu Gerindra, PAN, PKS dan Demokrat, maka RUU pemilu ‘tetap’ disahkan menjadi UU pemilu oleh DPR dan sah secara hukum sampai ada keputusan dari Mahkamah Konstitusi (MK), kalau ada yang menggugat.

Prabowo menyatakan bahwa presidensial threshold 20 % adalah sebuah lelucon politik, nah loh, leluconnya dimana ya? Karena sudah dua kali Pilpres di tahun 2009 dan 2014, tidak ada masalah!

“Skak”……… Presiden Joko Widodo menegaskan, ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) sangat diperlukan untuk melahirkan presiden yang berkualitas serta memiliki dukungan mayoritas parlemen, dan bukan merupakan lelucon seperti apa yang dikatakan Prabowo.

“Ster”…….. Presiden Joko Widodo menegaskan, tidak ada “Abuse of power” dalam alam demokrasi, seperti apa yang dikatakan SBY. Maka Jokowi mengatakan Perppu itu tak bisa dinilai sebagai penyalahgunaan kekuasaan alias abuse of power. ‘Kan ada DPR, Perppu bisa ditolak DPR, ada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), ada Mahkamah Konstitusi (MK), ada rakyat dan masyarakat yang mengawasi Undang-undang.

Bukankah hukum sekarang yang menjadi panglima, tidak seperti dulu, kekuasaan lah yang menjadi panglima?

Dengan langkah buah catur ‘kuda putih’ Jokowi, membuat posisi lawan politiknya tidak berkutik, menghadapi ‘skak-ster’, sehingga sudah pasti bahwa lawan politiknya kehilangan ‘ster’ sebagai pendamping raja, kalau mau terus sampai Pilpres 2019 nanti.

Dalam permainan catur, hanya ada satu jalan agar bisa mendapatkan kembali ‘ster’ yang sudah ‘mati’ untuk pendamping raja, yaitu bidak (pion) harus berjalan sampai keujung papan catur lawan, untuk menebus dan mengganti bidak (pion) menjadi ‘ster’ kembali, Anda mengerti bukan? Apa yang saya maksud, khususnya yang bisa bermain catur!

Sebelum lebaran kuda, Presiden Jokowi akan memenangkan permainan catur ini, dengan kedua kuda putihnya yang akan “Skak-Mat” pada permainan kedua, di Pilpres tahun 2019 nanti. Alamak.

 

Selamat berlebaran kuda. -,Cepuseo

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY