Klikbola11

CepuSeo – Pembahasan mengenai Pengangguran era Presiden Jokowi Paling Rendah Sejak 1998! sedang menjadi berita viral dan hangat saat ini mari kita simak.

Lulusan SMK mendominasi jumlah pengangguran di angkatan kerja, atau usia produktif. Sebanyak 9,27 % dari seluruh pengangguran di usia kerja tercatat sebagai lulusan SMK.

Dilanjutkan dengan lulusan SMA 7,03%, Diploma (D3) 6,35%, Sarjana 4,98%.

Jumlah tersebut diatas jumlah pengangguran yang lulusan SD, hanya 3,54%.

Dengan kata lain, jumlah lulusan SD yang bekerja jauh lebih banyak daripada lulusan SMK, SMA, D3 dan Sarjana yang bekerja, kok bisa?

Harus diakui, tangan dingin Presiden Jokowi yang basic-nya adalah seorang pengusaha, menjadikan sektor usaha, mulai dari kecil hingga menengah, juga usaha skala besar.

Hasilnya, terbuka banyak lapangan pekerjaan, yang berdampak positif pada penurunan angka pengangguran.

Data yang dilansir oleh Katadata angka pengangguran tahun 2017 adalah 5,33%.

Ditilik dari tahun 1998, ketika itu angka pengangguran masih 5,4%. Setelah itu, krisis finansial menerpa Asia dan juga Indonesia.

Kerusuhan dan berbagai polemik yang terjadi di tahun itu, membuat angka pengangguran melonjak drastis pada tahun 1999 menjadi 6,3 persen.

Tahun 2000 sempat berkurang menjadi 6,07%.

Lonjakan tertinggi sempat terjadi pada tahun 2005, ketika itu angka pengangguran menjadi 11,2%.

Jumlah pengangguran pada tahun 2005 merupakan angka yang tertinggi sejak tahun 1998.

Selanjutnya, tahun 2006 hingga 2012, perlahan-lahan pemerintah RI berhasil menurunkan angka pengangguran.

Meski fluktuatif, namun perlahan tapi pasti angka pengangguran terus berkurang.

Sampai akhirnya, di tahun 2013 hanya menjadi 6,16 persen saja. Angka tersebut sempat turun lagi di tahun 2014 menjadi 5,94%.

Tapi, angka penangguran naik lagi tahun 2015, menjadi 6,17%. Nah, ketika Presiden Jokowi dilantik, angka pengangguran 6,17% tersebut menjadi pekerjaan rumah baginya.

Dua tahun pertama, 2016 dan 2017, Presiden Jokowi lewat berbagai programnya berhasil menekan angka pengangguran menjadi hanya 5,61% pada tahun 2016 dan turun lagi menjadi 5,33% pada tahun 2017.

Jumlah itu melewati target yang dicanangkan yakni 5,4%.

Dengan jumlah pengangguran hanya 5,33%, berarti sejak tahun 1998, tepatnya setelah Indonesia diterpa krisis finansial, jumlah ini adalah yang paling rendah.

Lantas, ketika sesosok makhluk seperti Jonru dan rekan-rekan yang menyebutkan bahwa di “rezim” ini pengangguran semakin banyak dan berserakan di mana-mana, maka bisa dikatakan bahwa data mereka tidak valid.

Kenapa SMK Terbanyak “Penghasil” Pengangguran?

Kembali ke kenapa jumlah lulusan SMK menjadi penyumbang terbanyak untuk pengangguran.

Tidak ada alasan yang jelas dan pasti mengenai ini, namun berita tercepat dari pemerintah terus mengambil langkah dengan program pencocokan perluasan link dan macth terkait apa yang diajarkan di SMK dengan kebutuhan dunia kerja.

Ada sedikit hipothesis yang ingin dipaparkan penulis, kenapa lulusan SMK, SMA, D3, SMP dan Sarjana menjadi penyumbang pengangguran yang terbanyak.

Bila dikaitkan dengan banyaknya lulusan SD yang bekerja, dibandingkan dengan lulusan yang lain, maka bisa dibilang penyebabnya adalah “luasnya” lapangan kerja.

Lulusan SD bisa kerja di mana saja, apapun jenis pekerjaannya.

Mulai dari kuli berat, buruh tani, penjual balon, gorengan, tukang sapu dan sebagainya. Begitu juga dengan lulusan SMP, yang biasanya akan menerima apa saja jenis pekerjaan yang tersedia, asalkan syaratnya ia penuhi.

Lulusan SD yang memiliki SIM C dan SIM A, misalnya tentunya dapat banyak kesempatan untuk bekerja, menjadi driver misalnya.

Sebenarnya, lulusan SMA, SMK, D3 dan sarjana juga memiliki lapangan kerja yang jauh lebih luas daripada lulusan SD.

Bisa dikatakan, misalnya D3 dan SMK, tentunya juga bisa bekerja sebagai seorang tukang sapu, kuli berat, buruh tani, penjual balon, penjual gorengan dan sebagainya.

Bahkan, mereka bisa melakukan manajemen yang lebih baik, sehingga penjual gorengan yang lulusan D3 misalnya, seharusnya memiliki penghasilan yang jauh lebih tinggi daripada lulusan SD.

Bisa dibilang lulusan SMK dan D3 tentunya memiliki skill khusus, sehingga tidak semua pekerjaan akan mereka terima.

Tentu saja, bagi mereka akan sangat rugi bila lulusan SMK, SMA dan D3 harus bekerja dalam pekerjaan yang biasa diambil oleh lulusan SD.

Karena pekerjaan yang tidak semuanya akan diambil, menjadikan angka pengangguran di tingkat pendidikan ini cukup tinggi.

Banyak perusahaan menerima sarjana dalam jumlah banyak. Sedangkan untuk lulusan SMK, D3 dan SMA, perusahaan hanya mengambil dalam jumlah terbatas.

Jalan keluarnya, hanya memberikan banyak pengajaran kewirausahaan terhadap lulusan SMK dan D3, agar nantinya apabila perusahaan besar menerima pekerja dalam jumlah yang terbatas, maka lulusan dua tingkat pendidikan ini mampu berwirausaha dan membuka lapangan pekerjaan yang lain.

Hal itulah yang dilakukan oleh sebagian besar lulusan universitas dengan tingkat strata I maupun strata II.

Bila penerimaan CPNS, atau pegawai dari perusahaan tertentu jumlahnya terbatas, maka ada banyak yang mencoba berwirausaha.

Ada yang memandang peluang dari trend kekinian anak muda yang kemudian dibisniskan.

Ada juga yang memanfaatkan puluhan juta pengguna internet di Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial, lalu mencari peluang lewat blog, vlog, youtube dan sebagainya.

Dibahas juga di situs Pojokseni, misalnya. Lulusan SD dan SMP juga banyak tergabung di kelompok kesenian, yang biasanya didirikan oleh seorang sarjana.

Kelompok kesenian tersebut aktif, memiliki banyak jadwal panggung dan mendapat bantuan hibah dari yayasan tertentu, sehingga menjadikan anggota grup kesenian tersebut memiliki penghasilan tambahan, di samping penghasilannya dari pekerjaan tertentu.

Dunia kesenian yang sedang menggeliat di Indonesia, juga bisa dijadikan lahan penghasilan yang potensial, dan tentunya menyalurkan hobi dan passion dari pendiri dan anggotanya.

Daerah Mana di Indonesia yang Menyumbang Pengangguran Tertinggi

Sumber dari situs yang sama Katadata menyebutkan juga beberapa daerah atau provinsi yang “menyumbang” angka pengangguran terbanyak di Indonesia.

Lima daerah yang menjadi sorotan penulis, sebagai lima daerah penyumbang terbanyak pengangguran di Indonesia.

Kelima daerah tersebut adalah Kalimantan Timur (8,5%), Jawa Barat (8,4%), kemudian Maluku Banten dan Papua Barat (di bawah 8 %).

Tentunya hal ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi Pak Jokowi dan jajaran untuk melakukan sinergi dan kerjasama terarah dengan pemerintah daerah setempat agar dapat mengentaskan pengangguran di daerah-daerah tersebut.

PokerOfAsian | Bandar Poker | Bandar Ceme Online | Bandar DominoQQ | Bandar Capsa Online
Situs Poker Online Dengan Rate Kemenangan 80% hanya ada di PokerOfAsian
Hot Promo
*Bonus referal 10%

*Bonus Rolinggan 5%
*Cukup 1 ID untuk Semua Permainan
*Daftar Dan Jadilah Pemenang !!!
*Minimal Depo sangat TERJANGKAU, Hanya Rp.25.000
*Minimal Withdraw juga TERJANGKAU, Hanya Rp.25.000
Click Sini Untuk Daftar

 

Baca juga Kontes Seo Bandar Poker :

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY