Klikbola11

CepuSeo – Pembahasan mengenai Peta Politik Terbaru, Jokowi Amati Pergeseran Kekuatan dari Prabowo ke SBY sedang menjadi berita viral dan hangat saat ini mari kita simak.

Betul. Jokowi dikeroyok di tengah pusaran tiga kubu persaingan politik yang saling bertolak belakang.

Overview politik ini sebagai catatan untuk melihat ke dalam pusaran persaingan politik menuju 2018 dan puncaknya Pilpres 2019.

Catatan ini secara umum menyoroti seluruh gerakan politik yang saling terkait. Dan, pusat dari seluruh persaingan dan peristiwa itu adalah Jokowi.

Publik harus memahami dengan jernih segala peristiwa politik di Indonesia. Peta politik Indonesia sejak Oktober 2016 sampai saat ini telah berubah.

Jika sebelumnya Jokowi memiliki musuh politik yang belum berafiliasi dengan Islam radikal, kini dia harus berhadapan dengan mereka.

Dan, yang mengejutkan adalah bergesernya kekuatan politik ke SBY – dengan mengerdilkan Prabowo.

Peran Islam Radikal di Persimpangan

Kelompok Islam radikal ini sejak lama memang menjadi pihak yang telah menyiapkan diri selama puluhan tahun – sejak zaman eyang saya Presiden Soeharto.

Kelompok ini telah berakar beranak pinak dari kampus-kampus negeri yang terkonsentrasi di bidang eksakta.

Momentum kriminalisasi Ahok digunakan untuk melakukan akselerasi gerakan politik Islam radikal.

Bahkan dengan naiknya Anies Baswedan, menjadikan momentum itu semakin terakselerasi lebih cepat.

Saking percaya dirinya mereka bahkan mengembangkan ekonomi berbasis rasisme dan intoleransi: 212 Mart, lanjutan kasus saham Republika yang sampai saat itu tak jelas juntrungannya.

Sejak saat itu seolah arah radikalisasi masyarakat atas nama agama bahkan meluas menjadi RAISA (ras, agama, intoleransi, suku, antargolongan) berlangsung.

Upaya meradikalisasi dengan isu itu semakin meluas dan dilakukan secara masif, terstruktur, dan strategis. Media sosial menjadi salah satu alat termasuk skandal Saracen.

Polarisasi dukungan yang selalu terbelah menjadi dua: Jokowi lawan Prabowo berubah drastis ketika SBY menjadi bagian yang ikut bermain.

Hal ini menjadi semakin liar dengan ambisi Tommy Soeharto kembali ke panggung politik nasional.

Hal ini ditambah dengan pemanfaatan ormas dan penunggangan oleh kepentingan pendek para politikus.

Selain itu, kalangan pengusaha dan para pihak yang merasa berpengaruh pun bergerak memilih kelompok yang dirasakan cocok untuk memenuhi kepentingan mereka.

Dengan gambaran berita tercepat juga latar belakang di atas, maka peta kekuatan pun berubah. Jokowi menjadi pihak yang selalu bertahan dari serangan.

Ini untuk sementara harus dilakukan mengingat konsolidasi politik yang panjang yang dilakukannya.

Perubahan itu menjadi semakin tampak ketika kekuatan Prabowo semakin mengecil – akibat dari membesarnya pengaruh SBY dan kroninya dalam peta politik yang terpecah.

Maka dalam perubahan itu, aliansi kekuatan menjadi lebih cair dan kemungkinan masuknya Anies dan Agus yang didukung dan mengusung politik identitas Islam radikal menjadi hal yang tak dapat dipungkiri.

Agus pun tidak akan dijual dan dipasarkan dalam pilkada 2018. Munculnya kekuatan Anies dan Agus dalam peta politik itu menjadi sangat menarik karena melemahkan secara telak Prabowo.

Anies pun dipastikan akan mengalami dua kemungkinan: layu atau melaju.

Faktor yang memungkinkannya ditentukan justru oleh

  1. perpecahan aliansi partai agama PKS dengan Gerindra
  2. kecenderungan PAN yang selalu hendak bersatu dengan Demokrat
  3. pemilihan dan pemilahan kawan dan lawan dalam diri para partai pendukung dan Jokowi
  4. maneuver kekuatan jaringan bisnis dan politik yang dimainkan termasuk oleh Jusuf Kalla dan kawan-kawan

Melemahnya Prabowo itu terindikasi dari berbagai gerakan Prabowo yang berusaha mendekati dan mengubah arah kecenderungan menggandeng kalangan Islam radikal – yang bahkan setahun yang lalu pun belum nampak. Puncaknya pengakuan Prabowo kepada keberanian kekonyolan Rizieq FPI atas kemenangan Anies.

Ini langkah yang selama ini hanya dilakukan secara strategis oleh SBY yang menggunakan majelis taklim bentukan Demokrat sebagai corong dan kendaraan politik identitas Islam. Jadi warna politik Demokrat merangkul juga mereka.

Menyadari perubahan tiga front itu, maka strategi yang ditempuh oleh Jokowi adalah menguatkan sendi kekuatan Islam moderat, Islam Nusantara, dengan salah satunya meredam disfungsi dan peyalahgunaan MUI sebagai kendaraan kalangan Islam radikal.

Pun gerakan untuk menyadarkan fungsi masjid sebagai tempat ibadah inklusif seluruh kalangan Islam ditekankan.

Maka merangkul MUI dan kalangan kiai sepuh dan bijak memahami dinamika politik di daerah-daerah adalah langkah brilian Jokowi.

Riak Politik Biasa dan Posisi Prabowo Terancam

Tentang kegaduhan di masyarakat terkait isu kebangkitan PKI, yang ternyata menjadi alat bagi penyusupan gerakan Islam radikal di Indonesia, dan ditunggangi serta dipelintir untuk kepentingan politik dangkal para politikus dan parpol musuh politik Jokowi, justru itu menjadi alat untuk sekali lagi memahami arah gerakan yang mereka tuju.

Tentang kegaduhan kecil terkait pernyataan Gatot Nurmantyo, sesungguhnya tidak menjadi masalah besar dalam konstelasi politik Indonesia.

Untuk Pilpres 2019, telah ada dua calon dari bekas militer yakni Agus dan pecatan jenderal Prabowo, masuknya Gatot Nurmantyo setelah pensiun dari TNI justru memerkaya pilihan.

Penentuan capres dan cawapres untuk kalangan oposisi ditentukan oleh kesiapan dua kubu: Prabowo dan SBY yang keduanya berlatar belakang bekas militer.

Tentu mereka tidak akan mendapatkan titik temu. Demikian pula dengan Jenderal Gatot Nurmantyo nanti.

Kemungkinan masuknya Gatot hanya terjadi jika Anies maju. Ini pun tentu dengan menyingkirkan Prabowo.

Ini khas perhitungan Demokrat, PAN, dan PKS yang akan mengangkat Anies dan Agus, atau Agus-Anies. Dukungan penuh dari kalangan Islam radikal seperti FPI dan lainnya akan mengalir deras.

Gambaran itu tentu mengkhawatirkan bagi kubu Prabowo. Maka tak mengherankan jika belakangan Gerindra dan Prabowo semakin menunjukkan kekhawatiran dan SBY secara cerdas diam menghanyutkan.

SBY tampaknya untuk kedua kalinya akan menenggelamkan Prabowo dengan membuat kubu baru atau poros baru.

Sikap Presiden Jokowi

Dengan kondisi seperti ini maka Presiden Jokowi dan pemerintahannya telah tepat bersikap yakni dengan mengendalikan dinamika politik tanpa harus melakukan gebrakan yang justru akan menjadi amunisi bagi oposisi.

Strategi untuk meredam radikalisme,intoleransi, dan aliansi antara partai dengan kelompok Islam radikal tetap harus dilanjutkan.

Pendekatan hukum terkait Perppu Ormas, kisruh KPK versus DPR, penegakan hukum yang memihak kepada kepentingan bangsa menjadi prioritas jangka pendek dan menengah Jokowi.

Sikap wait and see dan membiarkan oposisi saling bermanuver adalah langkah tepat, sambil tetap melakukan konsolidasi ke dalam, terkait pembangunan, persiapan Jokowi 2019, dengan menggandeng kekuatan parpol dan relawan secara cerdas dan strategis.

Pembenahan strategi pemenangan Pilpres 2019 harus secara komprehensif tetap dipersiapkan dengan baik, dengan track dan arah grand design yang kompleks. Salam bahagia ala saya.

PokerOfAsian | Bandar Poker | Bandar Ceme Online | Bandar DominoQQ | Bandar Capsa Online
Situs Poker Online Dengan Rate Kemenangan 80% hanya ada di PokerOfAsian
Hot Promo
*Bonus referal 10%

*Bonus Rolinggan 5%
*Cukup 1 ID untuk Semua Permainan
*Daftar Dan Jadilah Pemenang !!!
*Minimal Depo sangat TERJANGKAU, Hanya Rp.25.000
*Minimal Withdraw juga TERJANGKAU, Hanya Rp.25.000
Click Sini Untuk Daftar

 

Baca juga Kontes Seo Bandar Poker :

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY