Klikbola11

CepuSeo – Pembahasan mengenai Sabar, Tekun dan Cerdik Itu Presiden Jokowi sedang menjadi berita viral dan hangat saat ini mari kita simak.

Belajar dari Pilkada Jakarta, itu mungkin satu-satunya cara mengupas tuntas strategi yang sedang dimainkan oleh kubu sebelah.

Lihat bagaimana kekalahan Ahok, kekalahan Ahok membuktikan strategi menonjolkan kinerja pembangunan tidaklah laku di pasar politik.

Joko Widodo mesti waspada, mengapa harus berhati-hati sebab barometer politik tanah air ada pada Pilkada DKI Jakarta.

Saya intelektual kampung tapi tidak kampungan ini pernah membahas dalam sebuah artikel yang berjudul “The Ahok Efek: Tuhan dekat dengan FPI”.

Ditulisan itu sudah saya jelaskan bahwa sudah menjadi sebuah rukun yang wajib dijalankan yaitu ketika ada nama Tuhan yang terbawa-bawa dalam memuaskan sahwat politik dan terbukti kini ramuan agama menjadi laku dipasaran.

SBY nampaknya panik melihat akhir-akhir ini banyak orang mengakui kecerdikan Jokowi yang hanya dalam tiga tahun sudah bisa menandingi kinerja SBY selama sepuluh tahu.

Sehingga meja makan dipilih sebagai pertemuan antara SBY dan Prabowo. SBY tentunya paham bahwa di meja makan ada ‘emosional’ yang kental.

Sehingga sehabis menyantap ‘nasi goreng’ SBY dan Prabowo justru menggoreng kebijakan pemerintahan Jokowi lewat pertemuan itu.

Lucunya yang digoreng adalah dana haji seakan-akan Jokowi tidak menghargai umat Islam.

Mereka tentunya sadar dengan membenturkan agama dan negara maka mereka akan akan laku dipasaran.

Padahal mereka lupa bahwa dana haji sukses dikelola dengan baik oleh Malasyia, bahkan pengelolaan dana haji juga masuk dalam strategi Prabowo sebagai salah satu alternatif pembangunan bangsa Indonesia saat kampanye kemarin.

Memang lagi musimnya pura-pura lupa.

Jauh sebelum itu penggiringan opini secara masif dilakukan dengan menggunkan motif PKI hingga rezim anti Islam.

Islam di Indonesia saat ini tampil lebih politis dari pada agamis, sehingga Islam yang lebih politis ini sengaja ditampilkan guna memuaskan hasrat mereka yang mata hatinya tertutup.

Belum lagi soal pembubaran HTI, Jokowi dituduh diktator dan anti demokrasi. Padahal HTI jelas-jelas mengkampayekan bahwa demokrasi adalah sistem kafir dengan menawarkan sistem kihlafah sebagai pengganti ideologi negara.

Bahkan masih sempat dituduh tidak demokratis, menolak demokrasi malah mengemis pada demokrasi itulah kegagalan HTI dalam menggunakan logika

Negara Arab Saudi saja memasukan Hizbut Tahrir dalam organisasi yang dilarang disana, apalagi kita yang jelas-jelas menjadikan agama sebgai bahan rujukan bukan legal formal seperti negara Islam pada umumnya.

Bagi saya HTI, Republik Maluku Selatan dan Organisasi Papua Merdeka tidak ada bedanya, yang membedakan mereka ada pada jubah agama yang digunakan HTI selebihnya itu sama-sama separatis, dipelihara ibaratkan memelihara duri dalam daging.

Jika ada yang berkata selama ini kenapa bisa HTI tidak bubarkan, tetapi di era Joko Widodo HTI dibubarkan, orang-orang yang berkata seperti ini lupa jika pemimpin didaerah sekalipun akan memelihara HTI sebab HTI adalah kantong suara bagi mereka.

Fitnah demi fitnah secara gencar dibuat oleh mereka tetapi Jokowi tetap tekun dalam bekerja ia bahkan mengingatkan bahwa ‘energi bangsa ini habis cuman karena demo dan hujat sana-sini’.

Parahnya, dipusaran akar rumput ada juga yang tergiur dengan fitnah hingga lahirnya cara penilian ganda, Joko Widodo melangkah ke arah mana saja selalu dibalas dengan opini-opini kubu sebelah yang kadang lucu dan mempertontonkan kebodohan mereka.

Sudah saatnya kita untuk berfikir cerdas, guna memberikan pencerahan berdasarkan fakta bukan hasil penggiringan opini oleh mereka yang memiliki sahwat politik yang tak terbendung bahkan seakan-akan ingin membangun dinasti.

Saat ini Joko Widodo telah membuktikan pada kita bahwa kesabaran adalah kunci utama melawan fitnah bahkan Jokowi sesekali harus balas fitnah itu lewat penjelasan dalam bentuk humor seperti yang saat ia menjadikan fitnah kubu sebelah ‘diktator’ ditertawakan.

Sederetan fitnah diatas takan membuat goyang, sebab saya ingat betul bagimana Jokowi melakukan konsolidasi di barisan aparat penegak hukumnya.

Ia begitu sabar, tekun dan cerdik menyusun kekuatan perangkat personel pimpinan di level eksekutor.

Hasilnya adalah Kejagung, TNI, KPK, Polri dan BIN kini solid dalam genggamanya.

Kesabaran Jokowi membuat ia tekun dalam membangun Indonesia walaupun serangan fitnah keji datang dan pergi, cerdiknya Jokowi adalah ia hanya membalas fitnah keji dengan candaan yang justru bisa saja jadi bumerang bagi kubu sebelah yang tampak tidak sabar melihat kesabaran Jokowi. -,CepuSeo

Baca juga :

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY